WhatsApp

Click To Chat

Lindungi Data Bisnis Anda dengan Strategi Cyber Resilience yang Efektif

Cyber Resilience Strategy MBT

Ancaman siber kini tidak lagi terbatas pada pencurian data. Ransomware, serangandestruktif, kredensial yang dikompromikan, dan berbagai insiden lainnya dapatmengganggu akses terhadap data kritis serta secara langsung memengaruhikeberlangsungan bisnis. Seiring data bisnis semakin tersebar di berbagai lingkungan hybrid cloud, organisasi harus mengelola infrastruktur yang semakin terdistribusi, dinamis, dan beragam, sekaligus menghadapi lanskap ancaman yang semakin canggih. 

Di sinilah cyber resilience strategy menjadi sangat penting. Berbeda dengancybersecurity tradisional yang terutama berfokus pada pencegahan dan deteksi serangan, cyber resilience menggunakan pendekatan yang lebih luas dengan mempersiapkanorganisasi untuk mencegah, menghadapi, merespons, memulihkan diri dari, dan beradaptasi terhadap ancaman siber. 

Cyber resilience strategy yang kuat melindungi data kritis sebelum insiden terjadi, memungkinkan deteksi dan respons yang lebih cepat, membatasi potensi dampak, sertamemastikan data tepercaya tetap tersedia dan dapat dipulihkan ketika serangan terjadi. Bagi organisasi yang beroperasi di lingkungan hybrid dan cloud, pendekatan ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus melindungi data sepanjang siklushidupnya. 

Apa itu Cyber Resilience? 

Cyber resilience adalah kemampuan organisasi untuk terus memberikan hasil bisnis yang kritis meskipun menghadapi insiden siber atau gangguan lainnya. Cyber resilience menggabungkan business continuity, information security, dan organizational resilience untuk membantu organisasi mempertahankan operasional dengan gangguan seminimalmungkin selama menghadapi insiden siber. 

Karena itu, organisasi yang resilien tidak hanya bergantung pada kemampuan untukmencegah serangan. Sebaliknya, organisasi perlu mengajukan pertanyaan berikut: 

  • Apakah kita dapat mendeteksi serangan sejak dini? 
  • Apakah kita dapat melindungi data kritis agar tidak diubah atau dienkripsi? 
  • Apakah kita dapat mengisolasi workload yang terdampak? 
  • Apakah kita dapat memulihkan salinan data yang tepercaya? 
  • Seberapa cepat operasional bisnis dapat kembali berjalan? 
  • Apakah kita dapat belajar dari insiden dan meningkatkan pertahanan? 

Perubahan perspektif dari “Bagaimana kita menghentikan setiap serangan?” menjadi“Bagaimana kita tetap beroperasi ketika serangan terjadi?” merupakan inti dari cyber resilience. 

Mengapa Cyber Resilience Penting?

Lingkungan ancaman siber modern menghadirkan berbagai tantangan bagi organisasi. 

Ancaman Semakin Canggih 

Penyerang siber terus mengembangkan teknik mereka. Serangan yang berhasil dapatmelibatkan kredensial yang dikompromikan, malware, ransomware, aktivitas orang dalam, maupun eksploitasi kerentanan. 

Setelah mendapatkan akses, tujuan penyerang tidak selalu hanya mencuri informasi. Mereka dapat mencoba mengenkripsi, mengubah, menghapus, atau dengan cara lain mengganggu akses terhadap data yang sangat penting bagi bisnis. 

Data Terdistribusi dan Hybrid 

Organisasi kini semakin banyak beroperasi menggunakan infrastruktur on-premises, private cloud, public cloud, dan lingkungan remote. 

NetApp menyoroti tantangan ini dalam ONTAP security datasheet, yang menyebutkanbahwa data menjadi semakin terdistribusi, dinamis, dan beragam. Kondisi ini meningkatkantanggung jawab tim IT untuk mengamankan informasi sepanjang siklus hidupnya. 

Ransomware dan Kerusakan Data 

Ransomware dapat mengubah insiden keamanan menjadi krisis yang memengaruhibusiness continuity. Jika data produksi terenkripsi atau mengalami kerusakan, organisasimembutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mendeteksi ancaman. Organisasi juga membutuhkan recovery point tepercaya yang tidak mudah diubah atau dihapus oleh penyerang. 

NetApp ONTAP menangani tantangan ini melalui berbagai kapabilitas, termasukAutonomous Ransomware Protection, Snapshot copies read-only, SnapLock, Snapshot copy locking, serta berbagai kontrol keamanan lainnya. 

Kepatuhan dan Tata Kelola 

Organisasi juga harus dapat menunjukkan bahwa data sensitif telah dilindungi dan dikeloladengan baik. Enkripsi, kontrol akses, kemampuan audit, kebijakan retensi, dan secure deletion dapat membantu organisasi membangun kontrol keamanan data yang lebih kuatsekaligus mendukung kebutuhan governance dan compliance. 

Cybersecurity vs Cyber Resilience 

Cybersecurity dan cyber resilience memiliki hubungan yang erat, tetapi keduanya tidakdapat disamakan. Cybersecurity tetap menjadi bagian fundamental dari cyber resilience. 

Namun, bahkan security posture yang kuat tidak dapat menjamin bahwa organisasi tidakakan pernah mengalami insiden. Cyber resilience menambahkan lapisan recovery dan continuity yang diperlukan untuk meminimalkan dampak ketika mekanisme pencegahangagal. 

Cybersecurity Cyber Resilience 
Sangat berfokus pada pencegahan dan deteksi ancaman Berfokus pada pencegahan, respons, pemulihan, dan keberlangsungan 
Melindungi data dan sistem dari akses tidaksah. Memastikan operasional kritis dapat terusberjalan meskipun terjadi gangguan 
Menekankan pada security control Menggabungkan keamanan, perlindungandata, recovery, dan business continuity 
Umumnya bertanya: “Bagaimana kitamenghentikan serangan?” Umumnya bertanya: “Bagaimana kita tetapberjalan dan pulih jika serangan berhasil?” 

7 Komponen Utama Cyber Resilience 

Cyber resilience strategy yang efektif harus mencakup berbagai lapisan perlindungan. 

1. Threat Prevention 

Organisasi membutuhkan kontrol yang dapat mengurangi kemungkinan terjadinya aksestidak sah, infeksi malware, ransomware, dan serangan lainnya. 

2. Detection and Monitoring 

Deteksi dini membantu organisasi mengidentifikasi aktivitas abnormal sebelummenyebabkan kerusakan yang lebih luas. 

3. Data Protection

Data kritis perlu dilindungi melalui mekanisme seperti enkripsi, kontrol akses, secure backup, dan immutable recovery point. 

4. Incident Response 

Organisasi membutuhkan prosedur yang jelas untuk menangani insiden, membatasidampaknya, serta mengoordinasikan tim teknis dan bisnis. 

5. Recovery

Mekanisme recovery yang andal sangat penting untuk memulihkan data tepercaya dan menjalankan kembali operasional bisnis setelah terjadi insiden. 

6. Business Continuity

Pada akhirnya, cyber resilience harus mendukung kebutuhan bisnis. Recovery objectivesperlu diselaraskan dengan prioritas operasional organisasi, termasuk kebutuhan recovery time dan recovery point. 

7. Governance and Compliance 

Security controls, kebijakan, retensi, access management, dan kemampuan audit harusdiselaraskan dengan persyaratan regulasi dan governance yang berlaku. 

Manfaat Utama Cyber Resilience Strategy 

Cyber resilience strategy yang dirancang dengan baik dapat memberikan manfaat yang lebih luas dari sekadar keamanan. 

Tingkatkan Kerahasiaan, Integritas, dan Ketersediaan Data 

Melindungi data berarti memastikan informasi tetap rahasia, akurat, dan dapat diakses oleh pengguna yang berwenang ketika dibutuhkan. 

Perkuat Security Posture 

Pendekatan berlapis membantu organisasi menerapkan security controls di seluruhlifecycle data, bukan hanya mengandalkan satu mekanisme pertahanan. 

Menerapkan Best Practice Keamanan dan Perlindungan Ransomware 

Organisasi dapat menggabungkan kapabilitas teknologi dengan best practice dari industridan vendor untuk membangun pertahanan yang lebih kuat terhadap ransomware dan ancaman lainnya. 

Mematuhi Persyaratan Governance dan Compliance 

Security controls seperti enkripsi, access management, retensi, dan secure deletion dapatmendukung framework governance serta persyaratan regulasi. 

Baca juga: Backup Monitoring: Kunci Visibilitas dan Kesiapan Data di Infrastruktur Enterprise 

Bagaimana NetApp ONTAP Mendukung Cyber Resilience Strategy Bisnis Anda? 

NetApp ONTAP menyediakan kapabilitas keamanan secara langsung pada data management dan storage layer. Alih-alih menjadikan storage sekadar tempat penyimpanandata, ONTAP mengintegrasikan kapabilitas keamanan dan perlindungan data untukmembantu organisasi melindungi informasi kritis di lingkungan hybrid cloud. 

Komitmen NetApp dalam menghadirkan pengalaman dan dukungan terbaik bagi pelangganjuga tercermin melalui pencapaian NetApp yang kembali memenangkan penghargaanAssociation of Support Professionals (ASP) Best Support Websites of 2026. Pengakuan ini semakin memperkuat komitmen NetApp dalam menghadirkan inovasi, customer experience, dan dukungan digital yang berkualitas bagi pelanggannya. 

Autonomous Ransomware Protection 

Autonomous Ransomware Protection (ARP) menggunakan analisis workload berbasismachine learning untuk mengidentifikasi aktivitas abnormal yang dapat mengindikasikanransomware. Menurut NetApp, ketika anomali terdeteksi, ONTAP dapat secara otomatismembuat Snapshot copy dan memberikan alert kepada administrator. DokumentasiONTAP saat ini juga menjelaskan bahwa ARP beroperasi secara real-time dan membuatlocked snapshot untuk mendukung proses investigasi dan recovery. 

NetApp Snapshot Copies 

Snapshot copies menyediakan salinan data point-in-time yang efisien dan bersifat read-only. Karena bersifat read-only, Snapshot dapat menyediakan recovery point tepercayayang terlindungi dari modifikasi ransomware. Organisasi dapat memulihkan data dariSnapshot yang dibuat sebelum serangan terjadi. 

NetApp SnapLock® Technology 

SnapLock membantu melindungi Snapshot copies dari penghapusan atau modifikasi. Kapabilitas ini sangat berguna ketika organisasi membutuhkan recovery copy yang tidakmudah diubah oleh administrator, kredensial yang telah dikompromikan, maupun pihakberbahaya. 

Snapshot Copy Locking  

Snapshot copy locking menggunakan teknologi SnapLock untuk membuat salinan data tidak dapat diubah atau dihapus selama periode tertentu. Hal ini memberikan lapisanperlindungan tambahan terhadap data recovery dari penghapusan yang tidak disengajamaupun aktivitas berbahaya. 

NetApp FPolicy Technology 

FPolicy menyediakan visibilitas dan kontrol terhadap aktivitas akses file. Teknologi ini dapatdigunakan untuk memantau aktivitas file dan menerapkan kebijakan berdasarkan faktorseperti tipe file. Integrasi yang didukung juga dapat memberikan analisis perilaku tambahanuntuk mendeteksi aktivitas yang berpotensi berbahaya. 

NetApp Volume Encryption 

NetApp Volume Encryption (NVE) menyediakan enkripsi berbasis software untuk data at rest dengan menggunakan encryption key yang unik untuk setiap volume. Hal inimembantu melindungi informasi sensitif meskipun pihak yang tidak berwenang berhasilmendapatkan akses ke infrastruktur storage yang mendasarinya. 

NVE Secure Purge 

NVE Secure Purge memungkinkan cryptographic shredding terhadap file yang telahdihapus dengan menghancurkan encryption key yang terkait dengan data tersebut. NetApp juga menjelaskan bahwa kapabilitas ini mendukung remediasi data spillage dan kebutuhanright-to-erasure seperti yang terkait dengan GDPR. 

Optimalkan Cyber Resilience Strategy Bisnis Anda Bersama NetApp Hanya di Mega Buana Teknologi 

Teknologi saja tidak cukup untuk menciptakan cyber resilience. Organisasi juga membutuhkan arsitektur, strategi implementasi, dan keahlian yang tepat untukmenyelaraskan keamanan serta perlindungan data dengan kebutuhan bisnis. 

Mega Buana Teknologi membantu organisasi mengoptimalkan cyber resilience strategydengan solusi NetApp, dengan fokus pada perlindungan data sekaligus efisiensioperasional. Pendekatan ini membantu organisasi mencapai biaya storage yang lebihrendah, ROI yang positif, biaya teknologi yang lebih rendah, serta meningkatkan efisiensitim IT. 

Sebagai bagian dari CTI Group, membantu Anda mengevaluasi kebutuhan perlindungandata dan mengeksplorasi bagaimana NetApp ONTAP dapat mendukung infrastruktur yang lebih kuat dan resilien. Konsultasikan dengan tim kami mengevaluasi cyber resilience strategy organisasi Anda. 

Penulis: Ervina Anggraini – Content Writer CTI Group

Share This Article :

Table of Contents

Related Post

Ransomware Protection for Backups: Best Practices for Securing Enterprise Data Assets

Di tengah meningkatnya ancaman ransomware, pertanyaannya bagi perusahaan bukan lagi sekadar apakahbackup sudah tersedia, tetapi apakah backup tersebut benar-benar aman dari serangan....

Zero Trust File Sharing: Mengapa Berbagi File Menjadi Celah Kebocoran Data

Bayangkan laporan keuangan perusahaan dikirim melalui email biasa, atau data karyawan dibagikan melaluitautan cloud storage yang dapat diteruskan ke siapa saja tanpa...

Data Sovereignty Indonesia

Pada Juni 2024, Indonesia mengalami salah satu insiden siber paling serius dalam sejarah digitalnya. Seranganransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) melumpuhkan...

Start a Conversation